Search

Thursday, April 03, 2025

When in love



 I can be a multitasking bitch when I am in love." (Page 31)

"I can be a bubbly bitch when I'm in love." (Page 32)

"I can be a giving bitch when I'm in love. Can I?" (Page 33)

Lala Bohang, the Book of Invisible Questions.

I can only be a so-called poet when in love 😛 I have written more than a hundred poems since falling for him, 3 years ago. perhaps because he and I live in two different cities. Perhaps because until now we still cannot live together 😆 perhaps ... well ... perhaps there are still many other possibilities ... I don't know. As a 'bucin' actually there are many things that can happen 🤣

DC, Jl. Semeru 18.13 03 April 2025



Shallow

 "Is it shallow to want beautiful girls?"

(It can also be read like this: "is it shallow to want gorgeous guys?")

The answer:

"What's beautiful? What beauty do you see in them?"

(Taken from Lala Bohang's book 'The Book of Invisible Questions' page 8)

Perhaps it is natural for people to like beauty, though for sure everyone has his/her own standard for beauty. Advertisements in medias will probably shape someone's idea of beauty. But maybe not. There are always a lot of possibilities in this life.

Then comes the following question:

"Good looking faces will make people fall in love? Or falling in love will make someone look good?"

Once I wrote such a question in my social media account. More people chose the second: 'falling in love will make someone look good'.

When someone grows older, will he/she lose his/her good look? Will their partner see him/her just as good looking as before? One thing that I think will stay the same is the feeling between this particular couple, as long as they can maintain their reciprocal feeling.

In this age of mine, I am still looking forward to finding such a partner.

Djajanti Coffee, 16.30 03 April 2025



Monday, March 24, 2025

We are what we read

 

foto anak-anak presiden RI 1 - 8, dalam rangka ultah Didit Prabowo, 22 Maret 2025

IMHO, sejak era medsos merakyat secara luas, pilpres (mulai tahun 2014) telah nyaris memecah belah masyarakat kita menjadi pendukung presiden yang menang dan pendukung presiden yang kalah. Well, jika ternyata hal ini telah terjadi di pilpres sebelum-sebelumnya -- terutama sejak dilaksanakannya pilpres secara langsung, di mana rakyat langsung memilih capres yang mereka sukai -- please forgive me karena kurang update. But at least, hipotesis saya ini diperkuat dengan masuknya teknologi android ke Indonesia yang membuat internet kian murah dan mudah diakses orang banyak. Ini terjadi sekitar tahun 2010. More and more people could enjoy android after that year, perhaps around 2011 - 2012

 

Dengan lugu, saya pikir pilpres yang hampir memecah belah rakyat Indonesia ini hanya akan terjadi di masa 'pertarungan ' antara Jokowi versus Prabowo, di tahun 2014 dan 2019. Setelah Prabowo bergabung dengan Jokowi seusai pilpres 2019, rakyat Indonesia akan menjadi satu. Kan yang 'berseteru' telah bergabung menjadi satu?

 

IN FACT, I WAS COMPLETELY WRONG. I was too naïve, wasn't I? lol.

 

Orang-orang yang dulu saya kira mendukung pemerintahan Jokowi dengan sepenuh hati -- para seleb medsos, para influencer, you name it -- ternyata mereka buzzer parpol yang menyewa mereka, lol. Tidak usahlah saya tulis namanya di sini ya. Tapi, begitulah, pilpres 2024 membuat mata saya kian melek (politik). Jika di awal masa kampanye pilpres 2024 -- dimulai sekitar bulan Oktober 2023 -- saya masih sering baper, lol, dengan terbuka menunjukkan keberpihakan saya pada capres dan cawapres tertentu, semakin ke sini, saya lebih memilih untuk menjadi pengamat saja. Saya memilih untuk meredam kebaperan saya di medsos, lol.

 

Konon, platform X di masa kampanye itu dikuasai oleh pihak 01. setelah tanggal 14 Februari 2024 -- hari pencoblosan -- X 'dipenuhi' dengan unggahan-unggahan anti 02, yang berarti merupakan gabungan pihak 01 dan 03. Saya yang tak (lagi) memantau X, tentulah 'immune' dari unggahan-unggahan yang dipenuhi oleh DFK a.k.a disinformasi, fitnah, dan kebohongan ini. Saya lebih memilih (kadang) menonton podcast di youtube yang jelas-jelas mendukung pemerintahan yang sah, atau podcast yang mengaku berdiri di tengah, bersikap proporsional.

 

One loved one of mine yang mengaku golput dan aktif di X kadang ngajak ngobrol tentang ketidakpercayaannya pada pemerintahan yang sah sekarang. Saya mau menuduhnya, "kamu pasti terkena kibulan mereka yang hobi menyebar DFK" (misal tentang UU TNI yang dituduh sebagai bakal kembalinya dwifungsi ABRI oleh para pembenci pemerintah) tapi saya tidak enak hati, lol. I am too kind-hearted, aren't I? lol. Karena sebelum termakan omongan, eh, sebelum terbakar status-status emosional marah-marah melulu ke pemerintah, saya lebih memilih mencoba mencaritahu masak sih begitu? Kalau pun memang begitu, saya yakin pemerintah punya alasan kuat untuk mengimplementasikan hal-hal tertentu. Prabowo sudah bercita-cita untuk menjadi presiden sekian puluh tahun lalu, saya yakin dia punya cita-cita bagus untuk memajukan negara kita. Kalau orang-orang menuduhnya ingin memupuk kekayaan, jelas itu tuduhan yang tidak tepat. Prabowo lahir di keluarga kaya raya dan ningrat (secara politik). Uang trilyunan yang dia miliki tidak akan habis dalam waktu sekian puluh tahun, pastinya.

 

Sebagai pendukung pemerintah yang sah, satu kali saya pun bertanya pada this one loved one of mine. "What will you do if things go bad in our country? Will you move abroad?"

 

"I haven't decided yet. Mungkin saja." jawabnya.

 

Okay, jika dia konsisten dengan ketidaksukaannya pada pemerintah. Yang menyebalkan adalah mereka yang ngomong kasar kepada pemerintah, tapi tetap saja memanfaatkan keuntungan-keuntungan yang mereka dapatkan dari tinggal di negara Indonesia. Misal: menyekolahkan anaknya di sekolah negeri yang gratis. atau memanfaatkan BPJS.

 

"But maybe not. I will compromise with what will happen saja," katanya lagi.

 

Dalam hati saya tertawa, lol. Andai saya punya uang puluhan milyar, dan bisa dengan mudah memutuskan untuk pindah ke LN, mungkin saya akan tetap tinggal di Indonesia. Angie yang katanya ingin pindah ke satu negara di Eropa, ya sila saja. Toh malah enak, saya bisa punya 'excuse' untuk sering-sering dolan ke Eropa, menengok Angie. Hihi …

 

Well, tentu saja saya pernah jengah dengan pemerintah, di masa orba dulu. Lha bagaimana tidak jengah, sejak saya lahir ceprot, sampai saya punya anak di usia 24 tahun, saya hanya mengenal satu presiden saja. Bosan kan? Hihi … Sampai Angie masuk sekolah dan duduk di bangku SD kelas 2, presidennya tetap sama. Waktu itu, Orba terasa begitu perkasa, tidak bakal mungkin tumbang. Represi untuk mengemukakan pendapat di tempat umum terasa sangat kuat, membuat orang-orang merasa terkebiri. Maka, saya tentu berada di barisan mereka yang ingin orba tumbang.

 

Sekarang kan kondisinya berbeda, Seseorang bisa terpilih menjadi presiden HANYA 2 kali. Ga suka pada Prabowo? Ya sabar saja, tunggu 2029, siapa tahu waktu pilpres, dia kalah. Kalau pun menang lagi, paling tidak di tahun 2034, dia ga bakal terpilih lagi. Bukankah begitu?  

 

So? Santai sajalah. Fokus saja ke kehidupan kita, do the best we can do. Let the government do the rest.

 

Gambar di bawah ini, saya ambil dari facebook. Kepsyen kawan yang mengunggah gambar ini saya copas:

 


Cara ngadepinnya sama kaya ngadepin orang toxic ; grey rock. Diem aja nggak usah urusan. Masa bodoh. Fokus sama hidup sendiri.

 

Kalo sudah nggak tahan, bisa pergi. Mungkin negara ini nggak cocok buat kamu. Banyak pilihan kok. Negara lain yang bagus tata aturannya banyak. Kalo ini nggak memungkinkan, balik ke cara pertama.

 

PT56 09.43 24 March 2025

 

I care a lot until I don't care at all



Caring people don't stop caring overnight. It is a slow process, a silent shift. It starts when they give and give, but never receive the same energy back. They keep understanding but no one tries to understand them. When their kindness gets mistaken for weakness, and their patience is taken for granted.

They hold on, hoping things will change. They keep explaining, belueving they will be heard. They keep forgiving, thjnking maybe this time, things will be different. But slowly, something inside them starts to break. Disappointments pile up. Unanswered texts, broken promises, and thoughtless words chip away at the love once they gave so freely.

And then one day, something changes. Not with a fight, not with anger -- just silence. They stop checking in. They stop waiting. They stop hoping. Not because they want to, but because they've been left with no choice. Their care, once overflowing, now feels like a burden they no longer wish to carry.

Caring people don't turn cold, they just get tired. Tired of one-sided efforts, tired of feeling unappreciated, tired of being the only one eho tries. When they stop caring, there is no going back. 

So, if someone still cares about you, don't take it for granted. Because once they stop, they stop for good.

Copied from IG account @wordsyoulovee

PT56 07.07 24 March 2025

Tuesday, March 11, 2025

Loved me back to Life

 From the episode: Home is where the hurt is


I have been watching the short clips of LOIS AND CLARK: THE NEW ADVENTURES OF SUPERMAN for these past a few weeks. These LOIS and CLARK are the most romantic and humane characters. The chemistry between Dean Cain and Teri Hatcher in this serials was stunningly unbeatable! So I thought 🥰 and both of them were gorgeous 🤩 Clark was described more sentimental than Lois 😁 that was the way Jonathan and Martha raised their adopted kid. Lois, on the other hand, was undergoing more difficult atmosphere at home when she was raised by her parents. This upbringing apparently created her personality.


PT56 21.40 11 March 2025

Thursday, March 06, 2025

New government, new hope

 


Honestly speaking, aku ga melek-melek amat tentang politik. Namun, aku adalah warga negara yang tidak suka ribet, lol.

 

Saat pak Jokowi menang pilpres periode pertama tahun 2014, harapanku melambung tinggi bahwa pemerintahan baru (saat itu) akan membawa kebaruan yang akan membuat segala sesuatunya lebih mudah, birokrasi tidak  ribet, dan pungli-pungli itu dihilangkan.

 

It came true! Pengurusan segala sesuatu yang membuatku kudu ke kantor kelurahan / kecamatan waktu itu terasa jauh lebih praktis, tidak ada pungli-pungli yang tidak perlu. Sayangnya satu hal: orang-orang yang sok ahli surga masih mendapat tempat untuk menistakan sesamanya hanya karena, let's say, seseorang tidak mengenakan jilbab. Atau yang jauh lebih parah: orang-orang non Muslim masih tetap mendapatkan kesulitan untuk apakah itu membangun gereja / sinagog atau sejenisnya itu, bahkan berita persekusi pada mereka yang melakukan ibadah agamanya di rumah pun tetap bisa kita temukan.

 

Aku yakin pak Jokowi orang baik, sebagai presiden, tentu beliau ingin memperbaiki sistem maupun kehidupan yang belum baik di negara kita sehingga seluruh rakyat Indonesia bisa nyaman tinggal di negara sendiri. Ketika hal ini belum tercapai secara penuh, aku paham: mengelola sebuah pemerintahan tidak bisa seperti main sulap. 'Kerusakan' kehidupan bernegara yang (konon) disebabkan oleh orang-orang politik di negara kita ini sudan sedemikian parah, sehingga impossible bagi seorang Pak Joko Widodo untuk memperbaiki segalanya hanya dalam waktu 2 periode pemerintahannya.

 

Menjelang pilpres tahun 2023 ketika pak Jokowi menunjukkan pilihannya untuk mendukung Pak Prabowo -- aku lebih memilih mempercayai orang-orang yang berada di sisi Pak Jokowi dan Pak Prabowo ketimbang yang ada di capres 03 (apalagi 01) -- bahwa negara Indonesia akan lebih baik jika pilpres dimenangkan oleh capres 02. Sinergi yang bagus antara pemerintahan pak Jokowi dan pemerintahan berikutnya (karena pak Jokowi dan pak Prabowo itu 'bestie') akan menghasilkan kebaikan, karena apa yang telah dilakukan oleh pak Jokowi dalam 2 periode pemerintahannya, akan dilanjutkan oleh pak Prabowo.

 

Ini jika dibandingkan dengan perpindahan pemerintahan dari pak SBY ke pak Jokowi yang tidak semulus di tahun 2024, usaha pak Jokowi untuk memulai pemerintahannya tentu terasa lebih berat ketimbang saat pak Prabowo mulai memerintah.

 

Coba bayangkan jika yang menang capres 01 -- yang dikenal (well, at least inilah hasil 'bacaanku' dari apa yang ditulis di media) selalu kontra dengan pemerintahan sebelumnya, sesaat setelah perpindahan kekuasaan pada tanggal 20 Oktober 2024, tentu Indonesia akan dibawa untuk kembali ke titik 0 dengan slogan yang dipakai oleh capres 01: "perubahan". What a waste!

 

Atau coba bayangkan jika yang menang capres 03, yang selama kampanye tidak jelas programnya selain fokus ke menjelek-jelekkan pak Jokowi karena pak Jokowi tidak (jadi) mendukung capres 03.

 

*****

 

Inilah mengapa aku optimis memandang Indonesia di masa depan. Ini yang aku tulis di kolom komentar saat seorang kawan facebook menulis keyakinannya pada pemerintahan Prabowo - Gibran. Tidak lama setelah itu, seorang 'kawan' facebook lain menyindir, "optimis ya boleh-boleh saja. Tapi masak disuruh nyemplung jurang kamu mau?"

 

Wkwkwkwkwk … lha memangnya kapan pak Prabowo menyuruh rakyatnya nyemplung jurang?

 

Honestly, aku memang bukan pendukung pak Prabowo di pilpres tahun 2014 dan 2019, karena melihat orang-orang yang ada di belakangnya. Di pilpres 2024, aku pede memilih Prabowo - Gibran karena melihat orang-orang yang berada di belakangnya. Aku melihat keseriusan pak Prabowo untuk membenahi Indonesia, mengingat beliau sudah sangat ingin menjadi presiden / wakil presiden sejak tahun 2009. He must have had something important that he wanna do to improve Indonesia.

 

"Kamu jangan naif begitu, percaya bahwa politisi itu orang yang bisa dipercaya. Politik itu tidak sebersih yang kamu bayangkan. Para politisi hanya memikirkan periuk mereka sendiri! Bukan untuk rakyat! Trust me!" demikian kata a loved one of mine.

 

Well, jika Ethiopia bisa bangkit dari kemiskinan, mengapa kita tidak percaya bahwa Indonesia pun mampu? Siapa yang akan membawa Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi? Ya pemerintahan yang legal memerintah negara kita tentu saja! Who else do you think?

 

*****

 

Setelah 'sedikit' mengamati apa-apa yang terjadi di beberapa bulan terakhir ini -- ditambah melihat keoptimisan pak Jokowi atas kepemimpinan pak Prabowo sebagai presiden berikutnya -- aku baru sadar bahwa di zamannya, pak Jokowi tidak mudah memberantas korupsi karena orang-orang kotor yang ada di sekitarnya, yang tidak mau RUU perampasan asset koruptor untuk segera disahkan. Pak Jokowi has done his best! Namun, ya itulah, Pak Jokowi 'hanya' presiden yang tidak menguasai satu partai politik -- karena beliau  dianggap 'hanyalah' petugas partai, beliau bukan seorang magician.

 

PT56 12.37 06 March 2025

 

Do you speak Bahasa?

 


Waktu berkunjung ke Prambanan tahun lalu (kisahnya bisa dibaca di sini), aku dan Ranz berangkat naik KRL. Pulangnya karena ogah jika harus berdiri lagi jika naik KRL, Ranz mengajakku naik bus. Namun, ternyata, beberapa bus yang lewat di perempatan dekat kawasan Candi Prambanan itu tak ada yang mau berhenti ketika kami melambaikan tangan. Karena aku tidak mau kemalaman sampai Solo, (meski kami berdua sampai Solo akhirnya ya pukul tujuh malam lebih, lol) aku memutuskan untuk naik taksi online.

 

Yang menarik ditulis di sini adalah ketika si sopir taksi online 'ngechat' aku di aplikasi taksi online itu menggunakan Bahasa Inggris, "where are you waiting?" aku jawab, "near the traffic light." dia bertanya lagi dimana letak tepatnya aku menunggu. Well, jika kutilik dari grammarnya, (hoho, maklum I am an English teacher) orang ini hanya sekedar bisa berkomunikasi dengan Bahasa Inggris dengan paspasan.

 

Aku heran, apa yang trigger dia ngechat dalam Bahasa Inggris? Apa dia sering mendapat klien orang luar negeri tatkala berada di sekitar Candi Prambanan ya?

 

Saat mobil datang, aku dan Ranz masuk dan duduk di jok belakang. Sopir masih menyapa dalam Bahasa Inggris, "You wanna go to Solo?" aku jawab pendek, "yes."

 

Beberapa saat kemudian, aku lihat sopir melihat ke jok belakang melalui kaca spion yang berada di atas kepalanya, "Miss, do you speak Bahasa?"

 

Aku rasanya pengen tertawa, tapi aku tahan. Dan kujawab, "nggih saged, kula tiyang Jawi." jawabku.

 

Sopir, "Oh, saya kira orang luar."

 

Aku ngikik dalam hati.

 

*********

 

Kisah ini tidak aku tulis di post aku dolan ke Prambanan karena kupikir it is not worth noting down. Aku mendadak ingat kisah ini ketika membaca satu thread di aplikasi thread, si TS menulis kisahnya yang sok kemringgis (dia menulis begini loh) ketika ditelpon temannya, dan posisinya dalam bus. Dia langsung gelagepan ketika orang yang duduk di dekatnya kemudian menyapanya, "where are you from, sir?"

 

Dan saat menulis ini aku ingat saat awal-awal aku kenal Abang -- one very good friend of mine living in NZ. Satu kali saat menelpon, dia bertanya aku mau berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Aku memilih bicara Bahasa Inggris. (sok ye. Lol.) namun ketika dia mendengar logatku berbicara English yang kental dengan logat Jawa, lol, dia bilang, "Na, pakai Bahasa Indonesia sajalah." wkwkwkwkwk … logat bicaranya a la orang Jakarta, meski waktu itu dia sudah sekitar 5 tahun tinggal di NZ. so, I don't mind at all speaking Bahasa Indonesia with him.

 

Di saat lain, aku ditelpon mbak Omie -- yang aku kenal via satu milis, milis yang sama dimana aku kenal Abang -- saat aku berada di kolam renang Paradise Club. I finished swimming at that time, dan aku hanya nongkrong di satu gazebo yang ada. Mbak Omie mengajak berbicara Bahasa Indonesia, namun karena logatnya American banget -- saat itu dia mengaku sudah tinggal di Amerika selama lebih dari 20 tahun -- aku entah mengapa merasa tidak pas jika menggunakan Bahasa Indonesia, lol. So? I switched into English. FYI, mbak Omie speaks English with strong American accent, but her grammar is not good for sure. Mine is much better than hers, lol.

 

Selesai ngobrol dengan mbak Omie via telpon, seseorang yang duduk di gazebo lain -- dekat dengan gazebo tempat aku duduk -- menyapaku, "Mbak, Bahasa Inggrismu bagus banget. Pernah tinggal di LN?"

 

Wkwkwkwkwk …

 

PT56 11.34 06 March 2025