 |
foto anak-anak presiden RI 1 - 8, dalam rangka ultah Didit Prabowo, 22 Maret 2025 |
IMHO, sejak
era medsos merakyat secara luas, pilpres (mulai tahun 2014) telah nyaris
memecah belah masyarakat kita menjadi pendukung presiden yang menang dan
pendukung presiden yang kalah. Well, jika ternyata hal ini telah terjadi di
pilpres sebelum-sebelumnya -- terutama sejak dilaksanakannya pilpres secara
langsung, di mana rakyat langsung memilih capres yang mereka sukai -- please
forgive me karena kurang update. But at least, hipotesis saya ini diperkuat
dengan masuknya teknologi android ke Indonesia yang membuat internet kian murah
dan mudah diakses orang banyak. Ini terjadi sekitar tahun 2010. More and more people could enjoy android after that year, perhaps around 2011 - 2012
Dengan lugu,
saya pikir pilpres yang hampir memecah belah rakyat Indonesia ini hanya akan
terjadi di masa 'pertarungan ' antara Jokowi versus Prabowo, di tahun 2014 dan
2019. Setelah Prabowo bergabung dengan Jokowi seusai pilpres 2019, rakyat
Indonesia akan menjadi satu. Kan yang 'berseteru' telah bergabung menjadi satu?
IN FACT, I
WAS COMPLETELY WRONG. I was too naïve, wasn't I? lol.
Orang-orang
yang dulu saya kira mendukung pemerintahan Jokowi dengan sepenuh hati -- para
seleb medsos, para influencer, you name it -- ternyata mereka buzzer parpol
yang menyewa mereka, lol. Tidak usahlah saya tulis namanya di sini ya. Tapi,
begitulah, pilpres 2024 membuat mata saya kian melek (politik). Jika di awal
masa kampanye pilpres 2024 -- dimulai sekitar bulan Oktober 2023 -- saya masih
sering baper, lol, dengan terbuka menunjukkan keberpihakan saya pada capres dan
cawapres tertentu, semakin ke sini, saya lebih memilih untuk menjadi pengamat
saja. Saya memilih untuk meredam kebaperan saya di medsos, lol.
Konon,
platform X di masa kampanye itu dikuasai oleh pihak 01. setelah tanggal 14
Februari 2024 -- hari pencoblosan -- X 'dipenuhi' dengan unggahan-unggahan anti
02, yang berarti merupakan gabungan pihak 01 dan 03. Saya yang tak (lagi)
memantau X, tentulah 'immune' dari unggahan-unggahan yang dipenuhi oleh DFK
a.k.a disinformasi, fitnah, dan kebohongan ini. Saya lebih memilih (kadang)
menonton podcast di youtube yang jelas-jelas mendukung pemerintahan yang sah,
atau podcast yang mengaku berdiri di
tengah, bersikap proporsional.
One loved
one of mine yang mengaku golput dan aktif di X kadang ngajak ngobrol tentang
ketidakpercayaannya pada pemerintahan yang sah sekarang. Saya mau menuduhnya,
"kamu pasti terkena kibulan mereka yang hobi menyebar DFK" (misal
tentang UU TNI yang dituduh sebagai bakal kembalinya dwifungsi ABRI oleh para
pembenci pemerintah) tapi saya tidak enak hati, lol. I am too kind-hearted,
aren't I? lol. Karena sebelum termakan omongan, eh, sebelum terbakar
status-status emosional marah-marah melulu ke pemerintah, saya lebih memilih
mencoba mencaritahu masak sih begitu? Kalau pun memang begitu, saya yakin
pemerintah punya alasan kuat untuk mengimplementasikan hal-hal tertentu.
Prabowo sudah bercita-cita untuk menjadi presiden sekian puluh tahun lalu, saya
yakin dia punya cita-cita bagus untuk memajukan negara kita. Kalau orang-orang
menuduhnya ingin memupuk kekayaan, jelas itu tuduhan yang tidak tepat. Prabowo
lahir di keluarga kaya raya dan ningrat (secara politik). Uang trilyunan yang
dia miliki tidak akan habis dalam waktu sekian puluh tahun, pastinya.
Sebagai
pendukung pemerintah yang sah, satu kali saya pun bertanya pada this one loved
one of mine. "What will you do if things go bad in our country? Will you
move abroad?"
"I
haven't decided yet. Mungkin saja." jawabnya.
Okay, jika
dia konsisten dengan ketidaksukaannya pada pemerintah. Yang menyebalkan adalah
mereka yang ngomong kasar kepada pemerintah, tapi tetap saja memanfaatkan
keuntungan-keuntungan yang mereka dapatkan dari tinggal di negara Indonesia. Misal: menyekolahkan anaknya di sekolah negeri yang gratis. atau memanfaatkan BPJS.
"But
maybe not. I will compromise with what will happen saja," katanya lagi.
Dalam hati
saya tertawa, lol. Andai saya punya uang puluhan milyar, dan bisa dengan mudah
memutuskan untuk pindah ke LN, mungkin saya akan tetap tinggal di Indonesia.
Angie yang katanya ingin pindah ke satu negara di Eropa, ya sila saja. Toh
malah enak, saya bisa punya 'excuse' untuk sering-sering dolan ke Eropa,
menengok Angie. Hihi …
Well, tentu
saja saya pernah jengah dengan pemerintah, di masa orba dulu. Lha bagaimana
tidak jengah, sejak saya lahir ceprot, sampai saya punya anak di usia 24 tahun,
saya hanya mengenal satu presiden saja. Bosan kan? Hihi … Sampai Angie masuk
sekolah dan duduk di bangku SD kelas 2, presidennya tetap sama. Waktu itu, Orba
terasa begitu perkasa, tidak bakal mungkin tumbang. Represi untuk mengemukakan
pendapat di tempat umum terasa sangat kuat, membuat orang-orang merasa
terkebiri. Maka, saya tentu berada di barisan mereka yang ingin orba tumbang.
Sekarang kan
kondisinya berbeda, Seseorang bisa terpilih menjadi presiden HANYA 2 kali. Ga
suka pada Prabowo? Ya sabar saja, tunggu 2029, siapa tahu waktu pilpres, dia
kalah. Kalau pun menang lagi, paling tidak di tahun 2034, dia ga bakal terpilih
lagi. Bukankah begitu?
So? Santai
sajalah. Fokus saja ke kehidupan kita, do the best we can do. Let the
government do the rest.
Gambar di
bawah ini, saya ambil dari facebook. Kepsyen kawan yang mengunggah gambar ini
saya copas:
Cara
ngadepinnya sama kaya ngadepin orang toxic ; grey rock. Diem aja nggak usah
urusan. Masa bodoh. Fokus sama hidup sendiri.
Kalo sudah
nggak tahan, bisa pergi. Mungkin negara ini nggak cocok buat kamu. Banyak
pilihan kok. Negara lain yang bagus tata aturannya banyak. Kalo ini nggak
memungkinkan, balik ke cara pertama.
PT56 09.43
24 March 2025